99 Islamic Legal Maxims / 99 Kaedah Fiqh

99 Legal maxims / Kaedah-Kaedah Fiqh

 

Article 1: “Matters are determined according to intention”

Segala hukum adalah menurut matlamatnya

 
Article 2: “In contracts effect is given to intention and meaning and not words and forms”

Yang diambil kira dalam kontrak ialah maksud dan makna, bukan lafaz dan susunan hukum

 
Article 3: “Certainty is not dispelled, (does not dispel caused), by doubt.”

Yakin tidak hilang dengan syak

 
Article 4: “It is a fundamental principle that a thing shall remain as it was originally.”

Anggapan bahawa sesuatu itu adalah kekl dalam keadaan asalnya

 
Article 5: “Things which have been existence from time immemorial shall be left as they were.”

Sesuatu yang lama itu dibiarkan mengikut lamanya

 
Article 6: “Injury cannot exist from the time immemorial.”

Benda yang mudarat itu tidak berkeadaan lama

 
Article 7: “Freedom from liability is a fundamental principle.”

Asal itu adalah membebaskan tanggungan

 
Article 8: “Non-existence is a fundamental presumption attached to intervening (transitory) attributes.”

Asal pada sifat-sifat yang mendatang ialah tidak ada

 
Article 9: “Judgment shall be given in respect to any matter, which has been proof at any particular time, unless the contrary is proved”

Apa yang sabit melalui atau dengan suatu masa hendaklah dihukum kekal selagi tidak ada bukti mencanggahinya

 
Article 10: “It is a fundamental principle that any new event shall be regarded as happening at the time nearest to the present.”

Menyandarkan perkara yang baharu berlaku kepada masa yang terdekat merupakan anggapan

 
Article 11: “In principles, word shall be construed according their real meaning.”

Asal bagi sesuatu percakapan adalah hakikatnya

 
Article 12: “”No attention shall be paid to inferences (implication) in the face of an explicit statement.”

Tidak diambil kira dilalah (isyarat) sekiranya ada nas yang jelas

 
Article 13: “Where there is a text there is no room for interpretation.”

Tidak boleh ijtihad pada perkara yang ada nas

 
Article 14: “A thing established contrary to the Qiyas can not be used as an analogy for other things.”

Sesuatu yang menyalahi qiyas tidak boleh diqiyaskan barang lain ke atasnya

 
Article 15: “One legal interpretation does not destroy another.”

Sesuatu ijtihad tidak dibatal oleh ijtihad yang lain

 
Article 16: “Hardship begets facility”.

Sesuatu kepayahan (mashaqqah) menyebabkan ia diberi kemudahan

 
Article 17: “Latitude should be afforded in the case of difficulty.”

Apabila sesuatu perkara itu sempit ia menjadi luas

 
Article 18: “Injury may not be met by injury.”

Melakukan kerosakan atau kemudharatan dan bertindak balas di atas kerosakan atau kemudharatan yang terbit dari orang lain adalah tidak dibenarkan

 
Article 19: “Injury is to be repaired.”

Kemudharatan dihindarkan

 
Article 20: “Necessity renders prohibited things permissible.”

Darurat atau keperluan mengharuskan perkar yang ditegah

 
Article 21: “Necessity is determined by the extent thereof.”

Darurat itu dikadarkan menurut kadarnya

 
Article 22: “Whatever is permissible owing to some excuse ceases to be permissible with the disappearance of that excuse.”

Sesuatu yang diharuskan atas sebab uzur (‘uzr) menjadi batal apabila hilangnya keuzuran-keuzuran itu

 
Article 23: “When a prohibition is removed the thing to which such prohibition attaches reverts to its former status of legality.”

Apabila larangan atau penghalang telah hilang maka perkara yang dilarang kembali semula

 
Article 24: “An injury cannot be removed by a similar injury.”

Sesuatu kemudaratan tidak boleh dihapuskan dengan seumpamanya

 
Article 25: “A private injury is tolerated in order to ward off a public injury.”

Ditanggung mudharat yang khas (private)kerana menolak mudharat yang am (public)

 
Article 26: “Severe injury is removed by lesser injury.”

Mudarat yang berat dihilangkan dengan mudarat yang ringan

 
Article 27: “In the presence of two evils, the one whose injury is greater is avoided by the commission of the lesser.”

Apabila bertemu dua kejahatan atau perbuatan salah, maka dijauhkan yang lebih besar dengan dilakukan yang lebih ringan

 
Article 28: “The lesser of evils is preferred.”

Sekiranya bertemu dua keburukan atau kejahatan (sharr) maka dipilih yang lebih ringan

 
Article 29: “Repelling an evil is preferable to securing benefit.”

Menolak kejahatan itu lebih utama daripada menarik manfaat

 
Article 30: “Injury is removed as far as possible.”

Kerosakan (darar) itu ditolak seberapa yang terdaya

 
Article 31: “Need, whether a of a public or private nature, is treated as necessity.”

Sama ada sesuatu kehendak (hajat) menjadi umum atau menjadi khusus bergantung kepada darjah keperluan

 
Article 32: “Necessity does not invalidate the right of another.”

Keadaan terpaksa (ittirar) tidak membatalkan hak orang lain

 
Article 33: “When it is forbidden to take a thing it is also forbidden to give it.”

Barang yang haram diambil adalah haram diberi kepada orang lain

 
Article 34: “When it is forbidden to perform an act it is also forbidden to request to its performance.”

Barang yang haram diperbuat adalah juga haram dituntut

 
Article 35: “Custom is authoritative.”

Adat adalah dijadikan hakam

 
Article 36: “Public usage is conclusive and action must be taken accordance therewith.”

Yang digunakan oleh manusia adalah menjadi hujah yang wajib diamalkan

 
Article 37: “A thing that is customary to regard as impossible is considered to be impossible in fact.”

Perkara yang mustahil dari segi adat adalh sama mustahil dari segi hakikat

 
Article 38: “It is undeniable that rules of law vary with change in time.”

Tidak boleh dinafi atau diengkar perubahan sesuatu hokum kerana perubahan masa

 
Article 39: “The original (real) meaning is to be regarded in favor of that established by custom.”

Adanya dalil dari adat makna sebenar (hakikat) ditinggalkan

 
Article 40: “Effect is only given to custom where it is of regular occurrence or when universally prevailing.”

Sesungguhnya adat itu dipakai hanya pabila ia berterusan atau kerap

 
Article 41: “Effect is given to what is of common occurrence, not to what happens infrequently.”

Yang dipakai itu hanyalah yang biasa lagi masyhur bukan yang jarang-jarang

 
Article 42: “A matter recognized by custom is regarded as if stipulated by agreement.”

Sesuatu yang diketahui oleh urf adlah sama seperti yang disyaratkan

 
Article 43: “A matter recognised customary amongst merchant is regarded as if agreed upon between them.”

Sesuatu perkara yang dikenali dikalangan saudagar itu seolah-olah seperti yang disyaratkan di kalangan mereka

 
Article 44: “A matter established by custom is like a matter established by a legal text.”

Apa yang ditentukan dengan adat atau urf itu adalah seperti yang ditentukan dengan undang-undang

 
Article 45: “When prohibition and exigency conflict, preference is given to prohibition.”

Apabila bercanggah di antara tegahan dan kehendak maka didahulukan tegahan

 
Article 46: “An accessory which is attached to an object in fact is also attached to it in law.”

Yang mengikut sesuatu mengikut juga dalam undang-unadang

 
Article 47: “An accessory to an object cannot be dealt with separately”

Hukuman tidak boleh diberi berasingan kepada sesuatu yang mengikut yang lain

 
Article 48: “The owner of a thing held in the absolute ownership is also the owner of the things indispensable to the enjoyment of such thing.”

Sesipa yang memiliki sesuatu maka dia juga memiliki perkara-perkara yang men jadi keperluan kepada benda itu

 
Article 49: “If the principle fails, the accessory also fails.”

Apabila asal sudah gugur maka gugurlah cabangnya

 
Article 50: “A thing which has been discharged or annihilated cannot be restored.”

Sesuatu yang gugur tidak boleh kembali sama seperti sesuatu yang tiada itu (al-ma’dum) tidak boleh kembali

 
Article 51: “When a thing becomes void, the thing contained in it also becomes void.”

Apabila sesuatu itu sudah menjadi batal maka sesuatu yang dikandunginya juga menjadi batal

 
Article 52: “When the original fails it is restored to its substitute.”

Apabila barang asal tidak boleh diberi maka ianya hendaklah diganti dengan harga barangan itu

 
Article 53: “A thing which is not permissible in itself, may be permissible as an accessory.”

Sesuatu yang sendirinya tiada dimaafkan adalh dimaafkan apabila ia menjadi pengikut atau akibat

 
Article 54: “A thing which is not permissible by way of commencement may be permissible by way of continuance.”

Sesuatu yang tidak dimaafkan di permulaan boleh dimaafkan pada pengekalannya

 
Article 55: “Continuance is easier than commencement.”

Mengekalkan lebih mudah daripada memulakan

 
Article 56: “A gift becomes complete by delivery.”

Tidak sempurna derma (tabarru’) kecuali dengan penyerahan

 
Article 57: “Management of citizen’s affairs is dependent upon public welfare.”

Mentadbir memerintah rakyat adalah bergantung kepada apa yang betul diperlakukan

 
Article 58: “Private trusteeship is more effective than public trusteeship.”

Wilayah (jagaan) yang khusus lebih kuat dari wilayah yang umum

 
Article 59: “A word should be construed as have some meaning, rather than disregarded.”

Manggunakan perkataan lebih utama daripada meninggalkan atau disia-siakan

 
Article 60: “When the real meaning cannot be applied, the metaphorical sense may be used.”

Apabila makna sebenar (hakiki) tidak mungkin diberi maka hendaklah diberi makna majazi (metaphorical)

 
Article 61: “If no meaning can be attached to a word it is regarded altogether.”

Apabila tidak mungkin digunakan atau diberi kesan kepada sesuatu perkataan maka ia dibiarkan

 
Article 62: “A reference to a part of an indivisible thing is regarded as a reference to the whole.”

Menyebut sebahagian daripada sesuatu yang tidak boleh dibahagi-bahagikan adalah sama seperti menyebut keseluruhan benda itu

 
Article 63: “The absolute is construed in its absolute sense, provided that there is no proof of a restricted meaning either in the explicit text or by implication.”

Sesuatu yang mutlak (tidak bersyarat) adalah berlaku atas itlaknya apabila tidak ada dalil dari nas ataupun isyart yang membatskannya atau mensyaratkannya

 
Article 64: “A description with reference to a thing present is of no consequence, but the contrary is the case if such thing is not present.”

Penjelasan sifat bagi suatu perkar yang hadir (ada dalam majlis) adalah tidak diambilkira, tetapi penjelasan sifat bagi perkara yang ghaib adalah diambilkira

 
Article 65: “A question is considered to have been repeated in the answer.”

Sesuatu soalan adalah dianggap sebagai diulang dalam jawapan.

 
Article 66: “No statement is imputed by to a man who keeps silence, but silence is tantamount to a statement where there is a necessity for speech.”

Orang yang diam tidak dinisbahkan sesuatu perkataan kepadanya tetapi diam pada waktu keperluan menunjukkan suatu perisytiharan (pengakuan)

 
Article 67: “In obscure matters the proof of a thing stands in the place of such a thing.”

Dalil sesuatu bagi perkara-perkara yang tidak zahir (batin) adalah mengambil tempatnya

 
Article 68: “Correspondence resembles conversation.”

Tulisan itu seperti percakapan

 
Article 69: “The recognized signs of a dumb person take the place of a statement by word of mouth.”

Isyarat yang boleh difaham daripada orang bisu sama seperti penjelasan dengan lidah

 
Article 70: “The word of an interpreter is accepted in every respect.”

Dalam semua kes perkataan seseorang penterjemah adalah diterima

 
Article 71: “No validity is attached to conjecture which obviously tainted by error.”

Tidak diambil kira sesuatu fakta yang nyata salahnya

 
Article 72: “No argument is admitted against supposition based upon evidence.”

Tidak ada hujah bersama terhadap sesuatu kemungkinan yang ada bukti

 
Article 73: “No weight is attached to fancy.”

Sangkaan yang tidak berasaskan kenyataan adalah tidak diambil kira

 
Article 74: “A thing established by proof is equivalent to a thing established by visual inspection.”

Sesuatu yang sabit dengan berasaskan bukti yang cukup sama seperti dengan sabitnya sesuatu melalui penglihatan

 
Article 75: “The burden of proof is on him who alleges; the oath on who denies.”

Keterangan bagi orang yang mendakwa acara dan sumpah adalah ke atas orang yang ingkar

 
Article 76: “The object of evidence is to proof what is the contrary to the apparent fact.”

Keterangan ialah untuk mensabitkan sesuatu yang tidak jelas dan sesuatu sumpah untuk memastikan sesuatu anggapan (al-asl)

 
Article 77: “Evidence is an absolute proof in that it affects third person; admission is relative proof in that it affects only the person making such admission.”

Keterangan adalah hujah yang melampaui pad yang lain (tidak terhad) dan ikrar adalah hujah yang tidak melampaui (terhad)

 
Article 78: “A person is bound by his own admission.”

Seseorang itu dipegang dengan ikrarnya

 
Article 79: “Contradiction and proof are incompatible, but this does not invalidate a judgment.”

Tidak ada hujah bersama percanggahan, tetapi ia tidak membatalkan keputusan diberi oleh hakim yang berlawanan dengan percanggahan

 
Article 80: “Failure to establish the principal claim does not imply failure to establish a claim subsidiary thereto.”

Kadang-kadang disabitkan cabang sedang yang asalnya tidak sabit

 
Article 81: “Anything dependent upon a condition precedent is established on the happening of the condition.”

Sesuatu yang digantungkan dengan syarat wajib disabitkan ketika sabitnya syarat itu

 
Article 82: “A condition must be fulfilled as far as possible.”

Mesti menjaga syarat seberapa yang boleh

 
Article 83: “Promises dependent upon a condition precedent are irrevocable.”

Janji yang mengambil bentuk ta’liq (bersyarat) adalh mengikat

 
Article 84: “The enjoyment of a thing is the compensating factor for any liability attaching thereto.”

Faedah sesuatu benda adalah menjadi pulangan kepada tanggungjawab atas kehilngan benda itu (daman)

 
Article 85: “Remuneration and liability do not run together.”

Membayar sewa dan tanggungan ke atas kehilngan (daman) tidak boleh bersama (berhimpun)

 
Article 86: “Liability is an obligation accompanying gain.
(That is to say, a person who enjoys the benefits of a thing must submit to the disadvantage attaching thereto.)”

Kerosakan (mudarat) merupakan pulangan kepada keuntungan

 
Article 87: “The burden is in proportion to the benefit and the benefit to the burden.”

Nikmat itu mengikut kadar berat tanggungan (kesusahan) dan berat tanggungan mengikut kadar nikmat

 
Article 88: “The responsibility for an act falls upon the author thereof; it does not fall upon the person ordering such act, provided that such person does not compel the commission thereof.”

Disandarkan perbuatan kepada orang yang membuat dan tidak kepada orang yang menyuruh selama ia tidak memaksa membuat perbuatan itu

 
Article 89: “In the presence of the direct author of an act and the person who is the cause thereof, the first alone is responsible therefor.”

Apabila berhimpun orang yang membuat atau terlibat secara langsung dengan orang yang menyebabkan, maka disandarkan hukumankepada orang yang membuat atau terlibat secara langsung

 
Article 90: “Legal permission is incompatible with liability.”

Keharusan yang diberikan oleh syarak adalah menafikan tanggungan untuk membayar pampasan

 
Article 91: “Liability lies on the direct author of an act, even though acting unintentionally.”

Seseorang yang melakukan sesuatu perbuatan walaupun ia melakukannya secara tidak sengaja adalah berkewajipan atau bertanggungjawab di atas perbuatan itu

 
Article 92: “No liability lies on a person who is the cause of an act unless he has acted intentionally.”

Seseorang yang melakukan perbuatn dan perbuatan itu menyebabkan kerosakan kepada perkara lin (mutasabib) tidak dipertanggungjawabkan kecuali jika ia sengaja melakukannya

 
Article 93: “No liability attaches in connection with injury caused by animals of their own accord.”

Kesalahan dan kerosakan yang dilakukan oleh binatang di atas perbuatannya sendiri tidak diambil kira

 
Article 94: “Any order given for dealing with the property of others is void.”

Suruhan memerintah harta yang dalam milik orang lain adalah batal

 
Article 95: “No person may deal with the property of another without such person’s permission.”

Tidak harus seseorang mengambil harta dalam milik orang lain tanpa keix=zinannya

 
Article 96: “No person may take another person’s property without legal cause.”

Tidak harus seseorang mengambil harta orang lain tanpa sebab shari’

 
Article 97: “Any change in the cause of the ownership of a thing is equivalent to a change in that thing itself.”

Pertukaran sebab milik bagi sesuatu adalah bermakna (mengambil tempat) pertukaran zatnya

 
Article 98: “Any person, who hastens the accomplishment of a thing before its due time, is punished by being deprived thereof.”

Sesiapa yang gopoh pada sesuatu perkara sebelum daripada sampai masanya adalah dikenakan hukuman dengan tidak mendapatnya

 
Article 99: “If any person seeks to disavow any act performed by himself, such attempt is disregarded.”

Sesiapa yang berusaha merosakkan sesuatu perkara yang telah dilakukan (disempurnakan) oleh dirinya, maka usahanya itu ditolak

 

 

 

This entry was posted in Islamic Legal Maxims. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s